Rahasia Kepemimpinan yang Jarang Kita Tahu

Image_b5fa30a

Mulai saat remaja, saya sudah aktif di berbagai organisasi, tidak jarang saya diberikan amanah peran-peran strategis dalam organisasi. Kebiasaan berorganisasi ini saya teruskan sampai sekarang. Bahkan saat kuliah, tidak tanggung-tanggung saya memiliki peran strategis di sebuah organisasi kepemudaan internasional yang bergerak dalam pengembangan kepemimpinan pemuda yang tersebar di lebih dari 110 negara di dunia.

Belajar kepemimpinan dari remaja, hingga berkeluarga, esensi kepemimpinan justru saya dapatkan ketika berrumah tangga. Menjadi pemimpin keluarga rupanya lebih rumit dibanding memimpin OSIS saat SMA, atau memimpin komunitas bisnis. Di awal berkeluarga, saya banyak “menuntut”. Bahasa yang lebih halus dan sederhana, meminta istri untuk jadi seperti ini, melakukan itu, dan lain sebagainya. Yang saya dapatkan saat pasangan tak bisa memenuhi ekspektasi itu ? Jengkel, marah, “nggresula”, dan berbagai reaksi negatif lainnya.

Jungkir balik putar otak untuk menemukan solusi supaya saya dapat atensi dari istri, padahal jawabannya sangat sederhana. Bahkan Rosulullah dari puluhan abad lalu sudah melakukannya, yaitu MEMBERI TELADAN. Ini esensi dari kepemimpinan. Saya tidak tahu apa jadinya umat muslim tanpa TELADAN sang Nabi, mungkin tak ada Islam, karena semua tindak tanduk kita di dunia ini sudah digariskan oleh teladan terbaik umat di dunia, Muhammad SAW.

Oleh karenanya, perilaku istri adalah cerminan teladannya di rumah, siapa lagi kalau bukan suami. Begitupun dengan anak-anaknya. Jadi tuntutan kita terhadap istri sebenaranya adalah tuntutan kepada diri sendiri, untuk memberikan teladan yang baik kepadanya. Saya punya kisah manis yang sampai saat ini masih kami jaga komitmennya. Saya adalah orang yang paling beruntung mendapati istri yang tak pernah curhat soal keburukan suaminya atau kondisi susahnya di media sosial dan menjadikannya konsumsi publik. Selain saya tahu istri punya kapasitas ilmu agama yang baik soal menjaga aib keluarga, kami, di awal pernikahan berkomitmen untuk tidak mengumbar masalah keluarga di hadapan publik media sosial. Awal pernikahan sampai saat ini, saya sekuat hati menjaga komitmen itu, dan Alhamdulillah istri-pun begitu, tak pernah sekalipun kami mengumbar kegalauan berrumah tangga di media sosial apapun. Komitmen lainnya soal bermedia sosial adalah berbagi sesuatu yang positif SAJA, entah yang sifatnya menghibur, mengedukasi, menginspirasi, bersilaturahmi dan teman-temannya.

Tugas kami selanjutnya masih sama, Meneladani Rosulullah dan saling memberikan teladan dalam rumah tangga. Soal teladan ini kelihatannya sepele, tapi jika tak ada keteladanan, maka tak ada peradaban. Salam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *